Oleh: Achmad Fachrudin
Ketua Program Studi Komunikasi Islam PTIQ University
Galibnya pesta perkawinan diharapkan berlangsung penuh sukacita. Namun, harapan itu sebagian sirna pada pesta perkawinan putra Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), Maula Akbar, dengan Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, Jumat (18/7). Acara hiburan rakyat di Lapangan Otto Iskandar Dinata, Garut, berubah menjadi insiden memilukan ketika terjadi desak-desakan saat warga berebut masuk ke Pendopo untuk mendapatkan makanan. Tiga orang tewas akibat insiden tersebut,yakni: Vania Aprilia (8), Dewi Jubaedah (61), dan Bripka Cecep Saeful Bahri.
Insiden dalam suatu peristiwa pesta perkawinan bukan hal baru, dengan berbagai penyebab. Namun, insiden kali ini menyita perhatian luas publik. Karena melibatkan sosok KDM yang mempunyai cerita panjang tentang kehidupannya dari pernah menjadi tukang ojek hingga kini menjadi Gubernur Jawa Barat. Gaya dan aksinya sebagai birokrat humanis, dermawan, tegas, kontroversial dan sebagainya telah menempatkan KDM sebagai sosok langka: populer dan sekaligus populis
Populisme sendiri, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2020), dipahami sebagai suatu pandangan yang menghormati dan mengedepankan hak, kebijaksanaan, serta keunggulan masyarakat lapisan bawah. Kamus Cambridge menggambarkan populisme sebagai seperangkat gagasan dan tindakan politik yang ditujukan untuk menarik dukungan dari masyarakat umum dengan cara memenuhi keinginan mereka.
Adapun Kamus Webster mendefinisikan populisme sebagai sebuah gerakan atau paham yang berfokus pada kepentingan dan harapan rakyat biasa, yang sering kali diposisikan berseberangan dengan kepentingan kelompok elit atau pemegang kekuasaan. Sehingga secara umum, populisme dapat dimaknai sebagai suatu ikhtiar dari setiap individu, terutama elit untuk melakukan suatu aktivitas atau gerakan untuk nenimbulkan simpati dari masyarakat.
Otentik atau Artifisial
Populisme yang melekat atau terdapat pada diri siapapun, khususnya pesohor atau elit politik secara umum ada dua jenis, yakni: pertama, secara genuine (sejati), pure (murni) atau otentik. Ini artinya populisme inheren atau build in dengan jati diri elit itu sendiri yang diperoleh dari proses intelektualisasi/santrinisasi serta pergulatan intelektual, sosial, atau politik yang panjang dan intens. Populisme semacam ini merupakan salah satu ciri dari populisme positif.
Kedua, artifisial (buatan), yakni: melalui proses manipulasi atau pencitraan baik secara konvensional maupun melalui bantuan media sosial (Medsos) yang kini sudah lajim digunakan banyak orang yang ingin cepat populer dan banyak cuan. Padahal sejati atau karakter asli pesohor atau elit politik tersebut adalah lawan dari populisme, yakni: elitisme. Populisme semacam ini adalah populis anti humanis atau misantropis humanis dan itu menjadi salah satu ciri dari populisme negatif.
Baik populisme genuine atau positif ataupun artifisial atau negatif saat ini penuh jebakan. Terutama sebagai akibat dari bantuan dan peran Medsos. Terlebih dengan kehadiran artificial intellegence (kecerdasan buatan) dengan beragam jenis teknologi digital, pemanfatannya guna mendongkrak pencitraan pribadi (personal banding) menjadi jauh lebih massif dan penetratif.
Seperti teori Jarum Suntik (Hypodermic Needle Theory) atau Teori Peluru Ajaib (Magic Bullet Theory), besutan Harold Lasswell (1927). Dia menyebutkan, media massa memiliki kekuatan yang sangat besar, langsung, dan seragam dalam memengaruhi pikiran dan perilaku khalayak (audiens). Sementara warganet terhipnotis untuk membagikan konten-konten seputar aksi sosok atau tokoh tertentu secara massif dan sukarela. Dan itu pula yang terjadi pada Medsos yang menurut Jurnalis/Kolumnis Senior Dahlan Iskan, dapat menciptakan kebenaran baru namun sekaligus semu.
Popularitas dan Kocek KDM
Bagaimana dengan populisme Gubernur Jawa Barat KDM, apakah murni atau palsu? Untuk dapat mencermatinya secara tepat dan akurat, diperlukan riset serius mengenai biografi pribadinya. Seperti latar belakang keluarga, lingkungan pergaulan sekitar, pergulatan saat menjadi aktivis mahaswa, karir dan pengabdian, .terutama track record sebagai pejabat publik, khususnya saat menjadi Gubernur Jawa Barat. Bahkan jika perlu menggunakan pendekatan etnografis.
Berbeda dengan sebagian politisi-birokrat lainnya, Gubernur Jawa Barat KDM menjadi salah satu contoh langka dari pejabat publik yang bekerja hanya mengandalkan kekuatan otak, di belakang meja kerja atau narasi, melainkan juga seorang eksekutor lapangan yang empirik, konkrit dan andal. Dua kapastitas tersebut kemudian diperkuat melalui Medsos sehingga menjadikan KDM seperti saat ini. Dan itu diakui oleh KDM bahwa popularitas yang diraihnya saat ini dikontribusi oleh Medsos.
Melalui kanal YouTube miliknya, Kang Dedi Mulyadi Channel, yang mulai aktif sejak 17 November 2017, KDM berhasil menarik perhatian jutaan viewer atau follower. Hingga Kamis, 22 Mei 2025, kanal tersebut telah mengumpulkan lebih dari 7,44 juta pelanggan dan mencatatkan total tayangan mencapai 2,1 miliar kali. Sehingga mendongkrak popularitasnya. Berdasarkan survei yang dirilis Indikator Politik Indonesia dan dipresentasikan oleh Burhanuddin Muhtadi pada Rabu, 28 Mei 2025, KDM memperoleh tingkat kepuasan publik tertinggi di antara gubernur di Pulau Jawa, yakni sebesar 94,7%.
Dampaknya telah mengantarkan KDM sebagai pejabat publik terpopuler di Indonesia. Melampaui tokoh-tokoh lain seperti Sri Sultan Hamengkubuwana X dari DIY (83,8%), Khofifah Indar Parawansa dari Jawa Timur (75,3%), Ahmad Luthfi dari Jawa Tengah (62,5%), Pramono Anung dari Jakarta (60%), dan Andra Soni dari Banten (50,8%). Bahkan sejumlah spekulan politik memprediksi, jika tingkat kepuasaan publik tersebut dipertahankan dapat menjadi modal penting bagi KDM untuk berkompetisi dalam pencapresan di Pemilu 2029
Bukan hanya meraih popularitas, cuanyapun terdongkrak dahsyat. Berdasarkan estimasi dari berbagai situs analitik Medsos, penghasilan yang diperoleh dari YouTube KDM diperkirakan mencapai antara Rp21 juta hingga Rp342 juta per hari (menggunakan kurs Rp16.318 per dolar AS). Dalam hitungan mingguan, pendapatan tersebut dapat berkisar antara Rp150 juta hingga Rp2,3 miliar, dan secara bulanan ditaksir mencapai antara Rp652 juta hingga Rp10,3 miliar. Luar biasanya, sebagian penghasilan sebagai youtuber digunakan untuk membiayai kerja-kerja sebagai birokrat, tanpa menggunakan kas daerah.
Evaluasi dan Introspeksi
Di tengah-tengah tingkat popularitasnya yang masih membumbung, KDM mengalami peristiwa tidak mengenakkan dengan terjadinya insiden pada pesta perwakinan anaknya yang menelan korban jiwa di Garut. Insiden Garut tersebut bukan hanya sedikit banyak mengguncang batin dan emosinya, dan mencoreng reputasinya, melainkan juga berpotensi menjadi titik balik dari populisme yang diraih dan dinimaktinya.
Terlepas dari penyebabnya—apakah kelalaian, kesalahan teknis, atau musibah—memperlihatkan problem dan sekaligus sisi rapuh dari populisme yang tumbuh lewat masyarakat jaringan (network society) dan pencitraan Medsos yang cepat melangit. Sekaligus juga mudah runtuh saat ekspektasi publik berubah menjadi kekecewaan. Akibat terjadi tindakan blunder atau suatu peristiwa tragis yang dialami sang sosok populis.
Meski demikian, kita tidak dapat secara gegabah mengalkulasi dampak negatif dari tragedi pernikahan anak KDM akan berkepanjangan. Dalam arti, akan menghancurkan citra populisme yang disandang oleh KDM selama ini. Belum tentu. Sebab sejauh ini, populisme KDM berasal dari otentisitas dirinya. Bukan semata artifisial karena peran dan dukungan Medsos. Dan insiden Garut di hari pesta perkawinan anak KDM, menjadi ujian penting dari populisme KDM itu sendiri.
Oleh karena itu, agar insiden Garut tidak menjadi titik awal dari kehancuran popularitasnya, menuntut evaluasi dan introspeksi atas berbagai aksi dan narasi yang dilakukan oleh KDM selama ini. Banyak kalangan berharap, agar KDM tetap mempertahankan karakteristiknya sebagai birokrat dan politisi populis otentik dan humanis. Namun pada saat bersamaan mengubah dan menghindari pola tingkah perilaku yang overdosis, urakan, arogan, dan bertabrakan dengan nilai-nilai adat istiadat, tradisi atau keagamaan mainstream.
Tanpa kesadaran dan kemauan kuat untuk melakukan berbagai langkah perbaikan tersebut, bukan tidak mungkin KDM akan mengalami kutukan populisme berkepanjangan dan kehancuran karirnya sebagai birokrat atau politisi populer, seperti dialami oleh sejumlah pesohor atau pemimpin lainnya. Apalagi justeru ditemukan adanya kepura-puraan, kebohongan, manipulasi atau agenda tersembunyi (hidden agenda) di balik aktivitas humanisnya yang bertabrakan dengan kepentingan publik. Saya kira KDM tidak ingin menerima kutukan populisme seperti itu.
Komentar0