Foto satyaberita.com
Aksi besar-besaran ini merupakan buntut kemarahan massa setelah salah satu rekan mereka, Affan (28), tewas terlindas mobil taktis (rantis) Brimob pada Kamis malam (28/8).
Pantauan di lapangan, massa ojol dengan jaket hijau khas memenuhi seluruh ruas jalan sejak siang. Arus lalu lintas di sekitar lokasi lumpuh total.
Kendaraan pribadi dan angkutan umum terpaksa mencari jalur alternatif karena akses menuju Mako Brimob tertutup lautan manusia.
Sejumlah aparat kepolisian bersiaga di balik pagar besi markas. Suasana sempat memanas ketika sebagian massa mencoba merangsek ke pintu gerbang.
Aparat berulang kali mengimbau agar massa menahan diri dan tidak memaksakan masuk. Namun, gelombang kedatangan ojol dari berbagai titik Jakarta masih terus berlangsung hingga saat berita ini ditulis.
Situasi di sekitar lokasi semakin tegang ketika gas air mata ditembakkan untuk membubarkan massa. Sebagian warga sekitar memilih menutup toko dan mengamankan diri dari kerumunan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian mengenai langkah hukum terhadap pengemudi rantis Brimob yang menewaskan Affan.
Latar Belakang Kasus
Kericuhan bermula dari insiden di kawasan Senen, Jakarta Pusat, pada Kamis malam (28/8). Saat itu, aparat Brimob sedang melakukan pengamanan sebuah unjuk rasa.
Dalam situasi ricuh, sebuah mobil rantis dilaporkan melaju kencang dan melindas seorang pengemudi ojol bernama Affan yang tengah melintas di sekitar lokasi.
Kabar tewasnya Affan cepat menyebar di kalangan komunitas ojol melalui media sosial. Unggahan video amatir yang memperlihatkan detik-detik pasca kejadian pun viral, memicu gelombang kemarahan. Sejumlah komunitas ojol kemudian menyerukan aksi solidaritas menuntut pertanggungjawaban aparat.
Aksi mengepung Mako Brimob hari ini disebut sebagai bentuk desakan agar pelaku dihadirkan secara terbuka. Massa menilai hingga kini belum ada transparansi dari kepolisian mengenai kronologi dan penanganan kasus tersebut. (pot)
Komentar0